Friday, March 03, 2006

Bersuaralah, sebelum bersuara itu dilarang...

Dear All,

Sehubungan dengan pembahasan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP)
yang sudah semakin gencar akhir2 ini, dan sehubungan dengan adanya kasus
polisi/hakim moral di Tangerang
(http://kompas.com/kompas-cetak/0603/02/utama/2478744.htm) maupun Batam
(http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060227.D02)
beberapa terakhir belakangan ini, maka mungkin sudah sepantasnya kita --
yang mungkin merasa miris dengan kejadian seperti itu -- untuk
menyuarakan kekhawatiran yang mungkin sudah timbul di hati kita.
Kalau tanpa payung hukum seperti RUU APP ini saja, sudah ada yang berani
bertindak menjadi polisi/hakim moral yang merasa dirinya lebih baik dan
lebih alim dibanding yang lain, bisa dibayangkan kemunafikan seperti apa
yang kelak akan terjadi di negeri ini kalau RUU APP dalam bentuk nya
seperti sekarang jadi diundang-undangkan.

RUU APP ini harus dibatalkan, atau setidaknya dilakukan revisi ulang.
(catatan : buat yang belum mengetahui bagaimana draft isi dari RUU ini,
bisa didownload file nya dari situs www.dpr.go.id , atau kirim email
kepada saya : deddy.depari@gmail.com untuk mendapatkan soft copy nya).

Karena itu, saat ini, kalau ada yang berminat untuk menyuarakan suara
dan kekhawatirannya, silahkan berikan suara anda melalui petisi online :
http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html

Untuk mengisi petisi nya dibutuhkan waktu yang sangat sebentar...hanya 1
menit maksimal :)

Petisi ini akan coba dikomunikasikan ke sebanyak mungkin milis yang ada,
dan jg mungkin ke beberapa media massa online yg (moga-moga) bersedia
memberikan sedikit publikasi akan hal ini. Kalau suara yang terkumpul
cukup banyak, kita akan mencoba membawa hasil petisi ini ke DPR atau
pemerintah melalui sekretariat dari kedua lembaga itu. Entah mereka
bakal mau dengar atau tidak, tapi setidaknya kita sudah melakukan apa
yang mungkin untuk kita lakukan...dan hasilnya sudah bukan bagian kita
lagi untuk menentukan :)

Kalo ada yg mau sedikit repot, mohon bantuannya untuk menyebar luaskan
petisi online ini kepada milis2 komunitas orang Indonesia apa saja yg
diikuti.
Tapi, bagi yang mungkin tidak terlalu mau memusingkan hal seperti ini,
tidak apa-apa...silahkan aja dilewatkan tulisan ini, dan tidak usah
dianggap terlalu serius...dan mohon maaf untuk group email nya...:)

Suara kita mungkin kecil, tapi tetap suara adalah untuk dipergunakan... :)
Bersuara sekarang, atau kesempatan itu akan hilang selamanya...

Salam,

-d-

|

Monday, November 07, 2005

not too far from here..

Somebody's down to their last dime
Somebody's running out of time
Not too far from here

Somebody's got nowhere else to go
Somebody needs a little hope
Not too far from here

And I may not know their name
But I'm praying just the same
That You'll use me, Lord, to wipe away a tear
Cause somebody's crying
Not too far from here

Somebody's troubled and confused
Somebody's got nothing left to lose
Not too far from here

Somebody's forgotten how to trust
Somebody's dying for love
Not too far from here

It may be a stranger's face
But I'm praying for Your grace
To move in me and take away the fear
Cause somebody's hurting
Not too far from here

Help me Lord not to turn away from pain
Help me not to rest while those around me weep
Give me Your strength and compassion
When somebody finds the road of life too steep

Somebody's troubled and confused
Somebody's got nothing left to lose
Not too far from here

Somebody's forgotten how to trust
And somebody's dying for love
Not too far from here

Now I'm letting down my guard
And I'm opening my heart
Help me speak Your love to every needlful ear
Someone is waiting not too far from here

Someone is waiting.....
not too far from here.....


("Not Too Far From Here", (C) Hillary Weeks, CD Title : Lead Me Home, Sept. 2001)

==================================================================================

"And the King will answer and say to them, `Assuredly, I say to you, inasmuch as you did [it] to one of the least of these My brethren, you did [it] to Me.' " (Matt. 25 : 40, NKJV)

|

Friday, October 21, 2005

setahun satu hari...

Selamat Ulang Tahun pertama (dan semoga bukan yang terakhir) buat Kabinet Indonesia Bersatu.
Masih ada kah yang mengingat seribu satu janji-janji manis SBY-MJK pada saat kampanye PilPres setahun lebih lalu?
Silahkan buka arsip-arsip anda....lalu lihat lah sekeliling mu...dan ini lah pemimpin pilihan mu itu... :)
Janji memang lah selalu manis....semua orang mampu berjanji, tapi tidak semua orang mampu mewujudkannya...

Ah, tapi kenapa susah-susah mengakui kegagalan bila masih ada benda-benda bernama "Tsunami" dan "harga minyak dunia" yang bisa dijadikan kambing hitam...
Lalu, bagi-bagi saja lah duit dengan royalnya kepada "mereka yang membutuhkan"....
Terus, buka lah pasar murah yang entah dari mana duitnya dan entah bagaimana struktur pembiayaannya, tapi itu tidak terlalu penting sekarang, yang penting image tetap terjaga...
Dan terakhir, tetap lah tersenyum dan pasang lah tampang meyakinkan penuh simpatik a la Indonesian Idols...

Resep manjur seorang Robin Hood untuk menjadi sebuah legenda pahlawan rakyat...

Bukan begitu? :D

Sayang negeri ini sudah memiliki lebih dari cukup legenda. Tambahan sebuah cerita "Robin Hood of Cikeas" bukan lah yang dibutuhkan negeri yang sedang sakit ini.

God Bless Indonesia...semoga...

|

Monday, October 03, 2005

delapan belas setengah musim..

Dan bunga itu pun gugur. Sudah tujuh musim dia bertahan, tapi semuanya ada masa nya. Tujuh musim dia terhempas angin, mencoba tegak dalam ketidakmungkinan. Tapi ketidakmungkinan adalah memang suatu kemustahilan. Bunga itu sudah saatnya gugur.

Ada saat di mana bunga itu begitu indah nya mekar. Wangi nya begitu semerbak, tetes embun bagaikan mahkota permata pada nya. Sebelas setengah musim. Ya, sebelas setengah musim dia bagaikan primadona tanpa tanding di antara kerimbunan padang rumput kehidupan. Tidak sebentar, namun tentu saja tidak lah lama sama sekali.

Bunga itu berpikir betapa kekuatannya sungguh lah penuh. Betapa sebelas setengah musim masih lah sekedar suatu awal. Awal dari ratusan musim yang akan menjelang. Tapi bunga itu salah. Bunga tidak lah pernah sekuat beringin dengan puluhan akar membelit. Dia indah, tapi dia tidak lah kuat. Sama sekali tidak. Angin badai membuktikannya.

Tujuh musim dia sudah coba bertahan. Menutup kuncup, menggulung daun, menunduk pucuk, demi berhemat kekuatan menghadapi sang badai yang tak kunjung puas menerjang. Dia bertarung begitu gagah perkasanya. Dia yang begitu indah, namun sangat lah lemah. Dan dia kalah. Setelah tujuh musim. Karena memang dia hanya lah bunga, bukan beringin yang kekar perkasa memeluk bumi.

Delapan belas setengah musim sejak awal, dan bunga itu pun gugur lah.

Sudah saatnya.

[in memoriam : bunga terindah padang rumput kehidupan, 01 Apr 2001-26 Jan 2004-03 Okt 2005]

|

Saturday, August 27, 2005

should have been there..

Aku tahu, tidak akan ada yang bisa menebus yang sudah berlalu itu. Matahari hanya terbit sekali, dan terbenam sekali, dalam satu hari. Hanya bila esok tiba, yang berlalu itu mungkin "kembali". Bila waktu masih lah berputar. Bila tidak, maka "kembali" hanya akan menjadi sebuah ilusi.

Aku tahu, tidak ada sebuah "lagi" dalam sebuah kesempatan. Hanya sekali. Sudah itu mati. Atau berhenti, setidaknya.
"Lagi" adalah sebuah kemewahan, karena "lagi" mengulangi apa yang sudah berlalu. Dan yang sudah berlalu adalah sejarah. Sejarah tidak pernah berulang, kecuali karena kebodohan.

Aku tahu, satu masa itu tadi ada, yang kini telah tiada. Dan aku tidak menggenggamnya. Bagai punai terbang, lepas lah yang sempat ada itu, dari genggaman ku. Hilang lenyap, seperti titik embun tercium mentari pagi.

Aku juga tahu, meskipun "lagi" benarlah sebuah kemewahan, aku memang berdiri dalam bayangan sinar kemewahan. Hanya bayangan. Karena awan kebodohan ada di atasku. Seringkali, sebuah "lagi" yang begitu mewah itu aku sandingkan dengan "lagi" dalam sebuah versi ketololan. Aku telah menegasikan "lagi" dengan sebuah "lagi". Kerap kali.

Tapi, andai engkau tahu, dalam kesadaran ku yang sepenuhnya, punai tidak lah hendak kubiarkan terbang, mentari pagi tak akan kuijinkan mencium titik-titik embun di atas dedaunan. Tidak lah ku suka melakukan "lagi" yang begitu bodoh itu.

Andai engkau tahu, bahwa dalam kesebenarannya, detik engkau membutuhkan ku itu, kaki ku serasa hendak terbang. Ingin ku segera berlari mendapati mu. Mendekap bertanya pada mu. Akan segera kuperintahkan seisi alam berdiam, dan biarlah semilir angin pun tak merusakkan amplituda gelombang suara mu pada telingaku. Membiarkan mu bercerita, meluahkan segenap asa dan duka, dalam sejuta saat yang tiada berbatas. Waktu ini segenap nya milik mu.
......................
......................

Andai engkau tahu.

Tapi engkau tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu.
Engaku hanya tahu apa yang telah engkau tahu. Seperti hal nya juga yang telah aku sendiri tahu : I should have been there.

Karena "lagi" mungkin tidak lah ada.

|